Minggu, 24 Januari 2010

San Chome no Yuuhi - Sunset on Third Street (review)


Sekitar akhir tahun 2008 saya mulai mulai cukup aktif mendatangi toko buku di ujung perempatan Gejayan ring road utara (yang orang jogja pasti tau toko buku yang saya maksud). Salah satu kelebihan toko tersebut adalah adanya diskon 20% persen dan tambahan 5% untuk buku yang baru saja sampai. Oke, tentu bukan itu pokok pembicaraan saya.
Jadi, disalah satu sudut toko tersebut terdapat comic corner yang merupakan hot spot favorit saya. Awalnya saya cukup malu2 untuk berlama-lama di kawasan tersebut, bukan karena apa-apa hanya saja saya harus bersaing dengan anak2 SD dan SMP untuk mencari Komik.
Singkat cerita saya menemukan sebuah komik karangan Saigan Ryohei Sensei yang judulnya Sunset on Third Street. Komik tersebut mempunyai judul asli San Chome no Yuuhi yang diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 2006 tapi mulai beredar di Indonesia sekitar tahun 2008. Ntah kenapa, begitu melihat covernya saya langsung tertarik dan memutuskan untuk membeli dan saat itu yang ada adalah buku ke-2.

Jauh dari kata lucu, romantis, serem atau apapun seperti yang ada pada komik jepang pada umumnya. Tapi entah kenapa komik itu menjadi sangat menyenangkan untuk dibaca. Komik tersebut bersetting Jepang pasca perang dunia ke-2 dengan tokoh utama keluarga Suzuki yang terdiri atas Norifumi, Tomoe dan Ippei. Mereka bertiga tinggal di kota Yuuhi blok 3. kehidupan yang mereka jalani sangat keras mengingat Jepang baru saja kalah perang. Awalnya sedikit membingungkan membaca komik tersebut karena ceritanya putus2 dan lompat2. Maksudnya begini, walaupun keluarga Suzuki merupakan tokoh utama namun komik tersebut bercerita mengenai seluruh kehidupan masing2 penghuni blok 3 kota Yuuhi. Mulai dari Hachi-chan yang lulusan SMP dan merantau ke Tokyo; Michiko-chan yang masih SD tapi harus mengurus rumah dan ayahnya sejak ditinggal mati ibunya; Nenek Kin yang harus terus melanjutkan hidup tanpa suami dan anaknya yang mati dalam perang; Sagawa san seorang lulusan Todai (Tokyo Daigaku) yang bercita-cita menjadi novelis terkenal dan seterusnya. Begitu banyaknya penghuni blok 3 Yuuhi hingga tidak bisa dituliskan satu persatu.

Yang membuatnya menjadi menarik untuk saya adalah komik ini memberikan pandangan lain terhadap Jepang. Diceritakan bahwasannya kehidupan orang Jepang mengalami masa2 yang sulit setelah perang dunia ke-2. Dari komik tersebut saya juga mendapati bahwasannya Jepang tidak menjadi hebat seperti sekarang dengan begitu saja, mereka juga pernah mengalami masa2 terbelakang. Di komik tersebut juga diceritakan revolusi kendaraan yang ada di Jepang dari jaman2 mobil roda 3, kerata trem hingga adanya peresmian awal sinkansen. Sangat2 menarik, untuk mengetahuinya dan semua yang ada di komik tersebut hampir tidak saya temukan lagi di Jepang saat ini,...serasa begitu cepatnya Jepang berubah. Padahal seusai perang dunia ke-2, Indonesia dan Jepang hampir berada di level kehancuran yang sama namun setelah 60th lebih perbedaannya begituuu jauh.


Saya sangat merekommendasikan komik tersebut untuk dibaca, bisa untuk segala umur dan profesi. Oya, saat ini sudah terbit hingga buku ke-5 dan sudah setengah tahun lebih kelanjutanya tidak kunjung terbit.
Dan ternyata ada juga film tentang cerita dalam komik tersebut dalam judul yang sama. Namun dalam filmnya terdapat beberapa hal yang berbeda dengan komiknya. Saya sendiri lebih tertarik dan suka dengan komiknya dibanding filmnya...
Jadi kalau ada waktu luang atau bingung mau melakukan apa, bisa dipertimbangkan untuk menonton film atau membaca komik Sunset on Third Street.

2 komentar:

Putri Dewi Anggi mengatakan...

suka banget sama komik ini... baca berulang-ulang-ulang-ulang kali ga bikin bosen... hehehe... sayang cm sampe 5...

cherry blossom mengatakan...

betuuul,..bagus banget komiknya, dan lanjutannya g terbit-terbit lagi --"